Make your own free website on Tripod.com

Saturday, November 23, 2002

First Love Can Not Be Forgotten...

Senin, 18 Juli 1988, sekitar jam 12 siang, that's the day I met her for the first time: my first love.

Waktu itu gue baru masuk SMP. Seluruh murid baru, masih berpakaian putih merah (masih kecil banget yakk...), disuruh berkumpul di aula sekolah, untuk mengikuti semacam ceramah. Kami semua duduk di lantai, tidak beralaskan apa-apa.

Lingkungan baru, mengundang gairah untuk melihat ke sana - kemari. Saat lagi celingukan, mata gua terpaku pada seorang cewek. Wajahnya bulat, rambutnya dipotong pendek, matanya sendu, dan senyumnya... aduhhh... manisnyaaa... dan giginya itu: putih sekali...

Perhatian tidak lagi tercurah pada guru yang sedang berbicara di depan, tapi sudah sepenuhnya beralih ke cewek itu. Pertama hanya sekedar melirik. Kemudian mencuri pandang. Kemudian kami saling bertatapan. Dia menundukkan muka. (saat gue cerita first sight ini ke dia, dia berkomentar:"waktu aku ngeliat kamu, aku yakin suatu ketika akan ada apa2 antara kita")

Setelah acara di aula selesai, adegan norak pun dimulai: gue buntutin dia. Karena acara hari itu sudah selesai dan kami sudah boleh pulang, gua jadi lebih leluasa untuk mengikuti kemanapun dia pergi. Gua berusaha supaya sedapat mungkin tindakan gua nggak mencolok. Bergerak dari kerumunan satu ke kerumunan lain, ke koridor, ke kelas, hingga ke gerbang sekolah. Gua bertekad untuk ngikutin dia sampe rumah (kalo inget2 ini, gue merasa: stupid!). Tapi sayangnya, ada mobil yang menjemput dia, dan nggak mungkin gue ngikutin mobil itu. Berhenti sudah acara ngebuntutin. Meskipun begitu, gue udah cukup puas: endah sekali rasanya!

Hari-hari berikutnya jarang sekali bertemu dia. Karena kami beda kelas (dia kelas 1C dan gue kelas 1D), kesempatan bertemu jadi sedikit. Sampai akhirnya ada tawaran untuk masuk menjadi anggota drum band. Gua nggak tertarik, tapi setelah mendengar cewek itu mendaftar (oh, ya. akhirnya gue tau namanya, sebut saja si D), gue jadi ikutan daftar juga.

Latihan pertama, sore-sore di lapangan sekolah. Kami diberikan tawaran untuk memilih alat apa yg mau dipegang. Gua memilih megang flute. Dan si D? Dia terpilih jadi majorette, asistennya field commander, menggantikan majorette lama yg sudah lulus. Kemudian kami semua disuruh berbaris, bergabung dengan anggota2 lama drumband. Barisan dipisah menjadi dua bagian, barisan perkusi dan barisan melodi. Karena gue pegang flute, maka gue masuk barisan melodi. Untung gue milih flute, karena ternyata barisan melodi ini dipimpin oleh si D. Hah, gue langsung sumringah. Gua ngeliatin dia terus, sampe nggak sadar kalo gue udah out of line. Dia menghampiri gua sambil tersenyum (aduh, senyumnya itu lho, nggak tahannn.....). Dia mengingatkan gua untuk memperbaiki posisi baris. She asked me twice, karena gue terpesona, dan nggak sadar dia lagi ngomong apa (again, kalo inget ini gue merasa: stupid!).

Waktupun berjalan terus, dan akhirnya gue dapatkan magic key: her phone number! Hehehe...ndredek alias gemeteran waktu gue telpon dia. Gue merasa goblok banget, karena saat gua berhasil berbicara dengan dia, gue mengaku sebagai orang lain. Dia bingung: "siapa ya? Perasaan nggak kenal". Mati kutu. Gua akhirnya mengaku, siapa nama gue sebenarnya. (kami tidak pernah berkenalan sebelumnya: cause I didn't have enough guts for that!). Saat gue sebut nama gua, dia langsung mengenali gua. Dalam hati gua bingung, kok dia tau nama gue, kan belum pernah kenalan. Meskipun begitu, gue senang, karena se-enggak-nya dia udah tau nama gue sebelumnya. Pembicaraan selanjutnya kagok, nggak tau ngomong apa. Di tengah kekagokan itu, dia mengusulkan untuk mengakhiri telpon, dengan alasan: mau belajar FISIKA! Hehehe...dasar anak SMP!

Semakin hari kami semakin dekat; Di drum band (yg akhirnya jadi marching band), di pramuka dan kegiatan ekskul lainnya. Kami mulai sering bertelpon-telponan, sering bertemu, ngobrol sana-sini, melakukan aktivitas bersama, dst. Ini berlangsung kurang lebih satu setengah tahun, sampai akhirnya dia jadi cewek gue. Uniknya, gua nggak pernah nyatain ke dia, hanya: a touch on her hand dan 'aku sayang kamu'. :-)

SMP gua di kota kecil, jadi dalam segi budaya pergaulan agak-agak ketinggalan dengan kota besar. Taruhlah di Jakarta atau Bandung, anak SMP pacaran merupakan hal yang lumrah. Di sekolah gue, anak SMP pacaran, itu bukan hal yg lumrah. In fact, cuma kami berdua yg pacaran, paling nggak di angkatan gue. Jadi kebayang kan, gimana kontroversialnya gue dengan dia, karena satu-satunya couple di angkatan gue. Kondisi ini jadi lebih heboh lagi, karena kami berdua termasuk 'aktivis' sekolah. Sampai-sampai gue pernah dipanggil oleh guru BP, diberi nasihat panjang lebar untuk tidak pacaran, dengan alasan masa depan lah, mengganggu pelajaran lah, ini lah, itu lah. Begitu pula dia, dipanggil oleh guru BP, mendapatkan nasihat yang sama. Tapi namanya orang lagi asik pacaran, siapa peduli dengan nasihat seperti itu :-)

Ada kejadian lucu. Kami punya foto berdua. Di foto itu gua dalam posisi merangkul dia. Saat jam istirahat, gua pergi ke kantin beli jajanan. Secara nggak sadar, foto itu terjatuh dari dompet gua. Kejadian itu baru gua sadari setelah balik lagi ke kelas. Gua kembali lagi ke kantin, keliling kesana kemari mencari foto itu, tapi nggak ketemu. Gue gave up, merelakan foto itu hilang, toh gue masih punya klisenya. Siang harinya, waktu sampai rumah, nyokap gue marah-marah. Gua bingung, kenapa marah? Nggak taunya, foto itu udah sampe ke tangan nyokap gue dengan surat pengantar dari kepala sekolah, yang bunyinya kurang lebih" "harap perhatikan putra bapak/ibu". Hehehehe...gue cuma nyengir waktu nyokap gue ngomel-ngomel. Bokap gue kebalikan nyokap, malah nggak marah, justru tertawa senang: "anakku udah punya pacar..." Bokap minta supaya gua ngenalin ke dia. Hehehehe.... Untungnya, foto itu nggak sampe ke tangan ortu cewek gue. Nggak kebayang sama gua, kayak apa jadinya kalo ortu cewek gue tau (dalam hati gua berterima kasih sama kepsek gue).

Oh iya, gue sempet diajak berantem sama senior gue, gara-gara gue pacaran sama dia. How stupid! Dia naksir berat sama cewek gue, tapi cewek gue nggak mau sama dia. Kalo inget kejadian berantem itu, gue jadi suka ketawa-ketawa sendiri :-)

Kalau diingat-ingat, masa-masa itu merupakan salah satu masa paling indah dalam hidup gua. Paling indah karena untuk pertama kalinya gue bener-bener jatuh cinta. Dan juga untuk pertama kalinya gue mengenal cewek. Mengenali karakteristiknya, mengenali kemanjaannya, mengenali keinginan mereka untuk selalu diperhatikan dan disayang, memahami cara mereka berpikir yang lebih dominan pada perasaan, dan juga memahami karakteristik gue sendiri sebagai seorang cowok. Gua sebelumnya pernah 'pacaran' juga, kalo kata orang sih cinta monyet, tapi truly falling in love for the first time, baru sama si D inilah.

Hubungan kami terus berlanjut hingga SMA. Dia pindah ke Jakarta sedangkan gue bersekolah di Bandung: long distance. Pacaran long distance berat, apalagi saat itu lagi heboh-hebohnya bergaul dan lagi seru-serunya proses pencarian jati diri, maklumlah teenager. Dengan kondisi seperti itu, kami berusaha bertahan, meskipun sempat diwarnai dengan renggang-putus-nyambung. Saat kuliah tingkat 2, kami akhirnya break-up, karena banyak hal yang berubah di antara kami dan merasa sudah tidak bisa lagi mempertahankan relationship.

Sudah cukup lama gua nggak ketemu dia lagi, terakhir berbicara lewat telpon, itu pun hanya sebentar. Gua nggak tau lagi kabarnya gimana sekarang. Sudah menikah kah? Ada dimana sekarang? I lose contact with her completely.

Yah begitulah pengalaman cinta pertama gua: Indah sekali. Meskipun berakhir dengan kepahitan, tapi tetap indah untuk dikenang dan tak mungkin terlupakan.

Update 24/11/02
Tadi siang gua jalan-jalan ke Jawa Tengah dan melintasi kota tempat gue SMP dulu. Melihat becak banyak banget, jadi teringat sesuatu: first date gue naek becak! :-). Gue inget waktu itu nonton bioskop jam 2 siang, berempat, soalnya dia nggak berani kalo cuma berdua doang :-)

Update again
After a few clicks in Google, I FOUND HER! She's here. Telpon, nggak, telpon, nggak, telpon, nggak, telpon, nggak, telpon...